Mobil  

Toyota Pilih Teknologi Baterai Nikel Ketimbang Lithium-ion

tautekno.com – Resmi sudah Toyota C-HR Hybrid mengaspal di Indonesia. Menariknya, PT Toyota Astra Motor (TAM) menjualnya seharga Rp 523 juta (OTR Jakarta). Hanya selisih Rp 30 juta, lebih mahal dari varian mesin konvensional. Bukan hanya itu, dibandingkan mobil Hybrid lain di Indonesia, CH-R tergolong murah. Anton Jimmy Suwandy, Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), mengatakan “Bisa dibilang, C-HR menjadi mobil Hybrid ‘termurah’ yang ada di Indonesia. Makanya kami cukup percaya diri memasarkan mobil ini.”

Dengan banderol yang tergolong ekonomis di kelasnya, kami sedikit menilik pada sistem hybrid yang disematkan. Terdapat sebuah anomali atas teknologi baterai C-HR. Ia mengadaptasi Nickel-metal Hydride (Ni-MH). Padahal, kebanyakan mobil hibrida ataupun full elektrik, biasa menggunakan baterai Lithium-ion.

Seperti dilansir dari laman howstuffworks, baterai ini memiliki beberapa keunggulan. Pertama, dimensi dan bobot Lithium-ion lebih ringan ketimbang nikel. Itu jelas mempengaruhi performa dan efisiensi ruang sebuah mobil. Lalu urusan mengisi daya, Lithium-ion juga dikenal lebih cepat. Mengenai voltase, setiap cell pada Lithium-ion dapat memproduksi 3.7v, sementara Ni-MH hanya mampu memberikan 2.4v. Dari semua itu, salah satu hal krusial yang membedakan, ongkos produksi baterai nikel lebih murah. Apakah ini alasan Toyota?

Baca Juga:  Daihatsu Umumkan Jumlah SPK Selama GIIAS 2021, Model Apa yang Paling Laku?

Kami mengonfirmasinya langsung kepada Anton, “Pertimbangan Principle Toyota banyak pastinya, dari mulai spesifikasi mobil, material dan kecocokan baterai pada mobil itu sendiri. Agak kompleks ya mengenai itu. Tapi bisa kita pastikan, menggunakan baterai nikel ataupun tidak, tetap memenuhi standar Toyota dari segi durabilitas, kualitas, safety dan warranty. Bahkan untuk di Indonesia, kami bisa kasih extended warranty. Kalau di mobil biasa tiga tahun, khusus untuk baterai ini lima tahun. Jadi kesimpulannya, baterai ini pasti durable.”

Mengingat Indonesia memiliki sumber daya nikel yang banyak, kami turut menanyakan, apakah ada keterkaitan antara teknologi baterai CH-R dan sumber daya di Indonesia? “Kami gak mau spekulasi alasan penggunaan baterai ini berhubungan dengan Indonesia yang punya sumber nikel atau sebagainya. Karena kalau ke sana, kami bicara melokalisasi hybrid di Indonesia, sedangkan C-HR sendiri diproduksi di Thailand.” tutup Anton.

Baca Juga:  Penyebab Knalpot Mobil Bocor dan Cara Memperbaikinya

Ya, bisa jadi belum ada alasan konkret atas penggunaan teknologi ini. Tapi terlepas dari itu semua, jaminan garansi lima tahun sangat menarik dan cukup memberikan bukti atas komitmen TAM mengenai durabilitas baterainya. Selain itu, SUV kompak ini juga memiliki catatan output yang tergolong baik di atas kertas. Menggendong mesin 1,8-liter Atkinson (2ZR-FXE) bertenaga 100 PS, dengan tambahan motor listrik, sehingga total tenaga yang dimiliki 136 PS. Selisih 4PS lebih kecil ketimbang versi mesin standar.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website oto.com. Situs https://tautekno.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://tautekno.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Baca Juga:  Wuling Motors Pamer Kendaraan Otonom E200 di Pabrik Cikarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *